BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap
orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil. Orang tua selalu berusaha untuk
menjadikan anak-anaknya sukses dalam segala hal. baik dalam hal pendidikan,
ekonomi, dsb. salah satu yang diharapkan orang tua adalah keberhasilan
kepribadian anaknya.
“Jangan
mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa
mereka selalu mengamati Anda” begitulah yang dikatakan Robert Fulghum. Oleh karena itu, pembelajaran
tentang sikap, perilaku dan bahasa yang baik akan membentuk kepribadian anak
yang baik pula. Orang tua merupakan pendidik yang paling utama, guru serta
teman sebaya yang merupakan lingkungan kedua bagi anak. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hurlock (1978) yang mengungkapkan bahwa orang yang paling penting bagi
anak adalah orang tua, guru dan teman sebaya.
Pendidikan
dalam keluarga yang baik dan benar, akan berpengaruh pada perkembangan pribadi
dan sosial anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh, akan memberikan
kesempatan pada anak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sebagian dari
orang-orang yang berada disekitarnya.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari pola asuh ?
2. Apa saja macam-macam pola pengasuhan?
3. Apakah pengertian kepribadian?
4. Bagaimana Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
5. Bagaimana pola asuh di Negara lain?
C. Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk
menjelaskan apa yang dimaksud pola asuh orang tua.
2.Untuk
mendiskripsikan macam-macam pola asuh orang tua.
3.Untuk
menjelakan maksud dari kepribadian.
4.Untuk
mendiskripsikan pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan
kepribadian anak.
5.Untuk
mendiskripsikan berbagai contoh pola asuh di berbagai Negara di dunia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pola Asuh
Pengertian pola asuh dalam keluarga
dapat ditelusuri dari pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat
(1995), yakni usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa
maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun).
Sugihartono
dkk, (2007) mengatakan bahwa pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan
pada anak dan bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh yang diterapkan
tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Pola perilaku ini dapat
dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh juga dapat
memberi perlindungan, dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari.
B. Macam-macam Pola Asuh (Parenting
Style)
1. Pola asuh demokratis
Pola
asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan
tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini
bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau
pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistik terhadap
kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak.
Selain itu, orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan
melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Hak dan
kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak
dilatih untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendri agar dapat
berdisiplin.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan
standar yang mutlak harus dituruti, biasanya diikuti dengan ancaman-ancaman.
Orang tua tipe ini bersikap tegas, memaksa, memerintah, menghukum dan cenderung
mengekang keinginan anak. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh
anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta
menghormati orang-tua yang telah membesarkannya. Apabila anak tidak mau
melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak
segan menghukum anak. Terlebih lagi orang tua tipe ini tidak mengenal kompromi
dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Hal ini dapat menyebabkan
anak kurang inisiatif, cenderung ragu, dan mudah gugup. Oleh karena itu, anak
yang sering mendapatkan hukuman menjadi tidak disiplin dan nakal.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola
mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Orang tua memberikan kebebasan sebanyak
mungkin pada anak untuk mengatur dirinya. Biasanya pola pengasuhan anak oleh
orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan
pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan
mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta
saja. Anak yang diasuh orang tuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa
berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah
diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk,
salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika
kecil maupun sudah dewasa.
C. Pengertian Kepribadian
Menurut Atkison,dkk (1996),
kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan
penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya (Sugihartono dkk,2007:46).
Definisi tersebut menunjukkan adanya konsistensi perilaku, bahwa orang
cenderung untuk bertindak atau berpikir dengan cara tertentu dalam berbagai
situasi.
Istilah
kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris “personality”. Secara
etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W
All Port “Personality is the
dynamic organization whitin the individual of those psychophysical system, that
determines his unique adjustment to his environment”.
Menurut
bangsa Roma, persona berarti “bagaimana seseorang tampak
pada orang lain”, bukan dari sebenarnya. Aktor menciptakan dalam pikiran
penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan diatas pentas, bukan impresi
dari tokoh itu sendiri. Dari konotasi kata persona inilah, gagasan umum mengenai
kepribadian sebagai kesan yang diberikan seseorang pada orang lain diperoleh.
Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa dia sesungguhnya termasuk dalam
keseluruhan “make up” psikologis seseorang dan sebagian besar terungkapkan
melalui perilaku, karena itu kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan
spesifik, melainkan merupakan kualitas perilaku total seseorang.
D. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Anak
prasekolah belajar dengan cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh,
berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi
pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali
dan menangani emosi mereka. Anak prasekolah
belajar banyak dari perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga adalah
kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak
menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial
lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan
anak.
1. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang
Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Sikap,
kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun pertama, sangat menentukan
seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan
ketika mereka bertambah tua. Kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya
dasar-dasar yang diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak.
Dasar-dasar tersebutlah yang akan dibawa sampai masa tua.
Tidak
dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya
adalah dalam keluarga. Di dalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal
aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus
bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya
bisa berkembang dengan baik.
Kenyataan
yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua
terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan
terbatasnya interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi
pada keluarga-keluarga muda yang semuanya bekerja.
Anak-anak
kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya
sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Sedangkan anak pada usia ini
sangat mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan
kepribadian. Anak yang ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang
pengasuh yang dibayar orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak
mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh.
Anak
yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya
orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak
seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus
kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih lanjut permintaan anak baik atau
tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari
orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik
dilingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat
mereka di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat
keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal orang
lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik perhatian
orang lain karena kurangnya perhatian dari orang tua.
Sedangkan
orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak
dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan
perhatian dari orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi
kurang mandiri, karena terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak
selalu dengan pangawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak
bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk
bersikap mandiri.
2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang
Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah Terhadap Pembentukan Kepribadian
Anak
Latar
belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap
pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang
pendidikan yang tingi akan lebih memperhatikan segala perubahan dan setiap
perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi
umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan
orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk pembentukan
kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya
dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun
dalam hal lain.
Berbeda
dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam
pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan
anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui
tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa
anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara
mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola
asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang kurang
baik.
3. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan
Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah Kebawah
Permasalahan
ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari
bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua
terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia
prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga
hanya akan menjadi korban dari orang tua.
Dalam
pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah
keatas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda.
Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya
biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan
dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki
orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi.
Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan
kebutuhan anak.
Anak
yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian
yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan
anak akan sombong dengan kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang
menghormati orang yang lebih rendah darinya.
Sedangkan
pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara
pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi.
Orang tua hanya dapat memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi
anak. Perhatian dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang
hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala
kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang
mandiri, mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam
menghadapi suatu permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain.
Pada
kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua
yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting.
Orang tua harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak
mampu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang Pencipta.
E. Contoh Pola Asuh di BeberapaNegara
Setiap
bangsa mempunyai cara unik dan khas dalam hal pengasuhan anak karena pola asuh anak erat kaitannya dengan budaya
setempat. setiap pola asuh yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing bangsa
punya sisi positif dan negatif.
1. Pola Asuh Keluarga China
Orang
tua berkebangsaan China yang membesarkan anaknya di Amerika, bagaimanapun, akan
dipengaruhi latar belakang budaya masyarakat China. Sebuah esai di Wall Street Journal menuliskan pola pengasuhan keluarga
China cenderung keras tetapi tetap menunjukkan cintanya. Mentalitas masyarakat
China yang pantang menyerah juga terlihat dalam pola asuh. Penulis esai
tersebut mengatakan, orang tua tidak akan sungkan memberikan hukuman jika
anaknya mendapatkan nilai A minus. Mereka cenderung menggembleng anak-anak
dengan keras. Tujuannya agar anak berusaha sekuat tenaga mencapai hasil
maksimal. Saat anak menunjukkan sikap tidak menghargai orang tua, anak-anak
harus bersiap menerima omelan atau kritik tajam dari orang tuanya.Ini adalah
mentalitas masyarakat China yang diterapkan dalam pola asuh anak di mana pun
mereka berada.
2. Pola Asuh Keluarga Amerika
Berbeda
lagi dengan pola asuh keluarga di Amerika yang dikenal sangat terbuka. Tentunya
setiap keluarga punya hak prerogatif untuk memberlakukan pola asuh terhadap
anak. Namun, tidak ada salahnya mengenali baik-buruknya pola asuh sebagai
pembelajaran.
Pola
asuh di keluarga Amerika terbagi menjadi tiga kategori permisif, kekuasaan, dan
menuntut perhatian. Masing-masing pola asuh ini mempunyai sisi positif dan
negatif. Namun, masih ada cara untuk menyeimbangkan kedua sisi ini.
a. Bersikap Permisif
Sisi
Positifnya, sikap permisif dalam merawat anak akan menumbuhkan penghargaan atas
diri sendiri sehingga bisa membentuk rasa percaya diri pada anak. Anak menjadi
lebih berani mencoba sesuatu hal yang baru. Orang tua biasanya terlibat dalam
diskusi terutama saat anak sedang berargumentasi mengenai suatu hal. Membangun
komunikasi terbuka justru membuat anak tahu mana yang baik dan benar, dan tidak
menerka dengan pikirannya saja.
Negatifnya,
orang tua cenderung sulit bilang tidak kepada anak-anak. Orang tua di Amerika
secara membudaya tak bisa bilang tidak. Hal ini tentunya tidak terjadi pada
semua orang tua dengan pola asuh ala Amerika. Namun, sebagian besar dari mereka
mengalami hal ini. Sikap permisif membuat orang tua menjadi defensif dalam
rangka melindungi anaknya. Saat anak gagal dalam tes di sekolah, sangat mudah
bagi orang tua menyalahkan pihak lain, menyalahkan guru yang tidak berkualitas
atau menganggap hasil tes tidak adil. Orang tua tidak menyadari bahwa anak
perlu mengalami kegagalan untuk tahu caranya belajar menjadi sukses.
b. Menunjukkan orang tua berkuasa
Sisi
Positifnya, orang tua bisa memposisikan diri sebagai pihak yang patut didengar
dan dihargai anaknya. Dengan menunjukkan siapa yang berkuasa, Anda sedang
mengajarkan anak bahwa orang tua berkuasa dan bisa menolak, memerintah, bilang
tidak atas permintaan yang berlebihan, dan termasuk juga mendapatkan
penghargaan dari anak-anak.
Sisi
Negatifnya, tidak semua anak bisa memiliki kemampuan dan kekuatan dalam
menerima sikap orang tua yang tegas. Anda bisa memarahi dan bersikap tegas
kepada anak untuk menunjukkan orang tua berkuasa. Namun, hanya lakukan sikap
seperti ini saat memang anak sudah melampaui batas.
c. Bersikap menuntut dan terlalu
berharap
Sisi
Positifnya, menggantungkan harapan atau bahkan tuntutan kepada anak untuk
memenuhi keinginan Anda boleh jadi membuahkan hasil maksimal. Namun, ini
terjadi hanya jika anak merespons gaya pengasuhan seperti ini dengan positif.
Umumnya, pola pengasuhan yang terlalu banyak menuntut anak ini menimbulkan
masalah orang tua-anak.
Sisi
Negatifnya, sikap orang tua yang terlalu menuntut anak, menggantungkan semua
harapan kepada anak, hanya akan berujung pada masalah. Saat anak gagal dan
tidak mampu memenuhi harapan orang tua, mereka yang berbudaya Timur akan marah
dan memberikan sebutan tak mengenakkan kepada anaknya, seperti anak tak
berguna, sampah. Lain lagi dengan orang tua dari budaya Barat. Mereka cenderung
akan bersikap kasar yang sifatnya kekerasan fisik, seperti memukul.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pola
asuh orang tua merupakan pola perilaku yang diterapkan orang tua pada
anak-anaknya yang bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh orang tua berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan tempat sosialisasi
pertama bagi anak. Seorang anak akan meniru perilaku dari orang tuanya baik itu
perilaku baik maupun perilaku yang kurang baik. Hal itulah yang nanti akan
dibawa anak sampai tua.
Keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak
dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial, sehingga kehidupan di
sekitarnya dapat dimengerti oleh anak, sehingga pada gilirannya anak berpikir
dan berbuat positif di dalam dan terhadap lingkungannya.
0 komentar:
Posting Komentar