BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Administrasi ketatausahaan merupakan subsistem organisasi, dalam hal ini adalah organisasi sekolah. Kegiatan utamanya adalah mengurus segala bentuk administrasi sekolah, mulai dari surat-menyurat sampai dengan inventarisasi barang. Bila dilihat dari pengertian di atas, maka tata usaha tidak hanya menyangkut kegiatan surat-menyurat saja tetapi juga menyangkut semua bahan keterangan dan informasi yang berwujud warkat.
Ketatausahaan menjadi penting karena ketatausahaan dapat membantu dan mempermudah subsistem yang lain seperti bagian kesiswaan, kurikulum, administrasi personel, dan lainnya. Dalam hal ini ada istilah yang disebut dengan mekanisme bantu artinya kegiatan ketatausahaan sekolah dapat dipergunakan untuk membantu pimpinan (Kepala Sekolah) dalam mengambil keputusan, sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses administrasi, dengan data yang diperlukan.
Bila administrasi ketatausahaan berjalan dengan baik maka kegiatan yang menyangkut pembelajaran dan tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik pula. Untuk itu, diperlukan staf tata usaha yang professional dan kompeten di bidangnya.
B. Rumusan Masalah
Untuk membatasi bahasan yang akan diuraikan dalam pembahasan maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan administrasi ketatausahaan di sekolah?
2. Apa saja jenis-jenis ketatausahaan yang ada di sekolah?
3. Bagaimana Ketatausahaan sekolah yang baik itu?
4. Apa saja kegiatan ketatausahaan yang lain?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ditinjau dari sudut asal usul kata (etimologis), maka ADMINISTRASI berasal dari Bahasa Latin yaitu Ad+Ministrare. Ad berarti intensif, sedangkan Ministrare berarti melayani, membantu, dan memenuhi atau menyediakan (Husaini Usman, 2006).Menurut The Lian Gie (2000), tenaga tata usaha memiliki tiga peranan pokok yaitu: (1) melayani pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan operatif untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi, (2) menyediakan keterangan-keterangan bagi pucuk pimpinan organisasi itu untuk membuat keputusan atau melakukan tindakan yang tepat, dan (3) membantu kelancaran perkembangan organisasi sebagai suatu keseluruhan.
Tata laksana pendidikan sering disebut dengan istilah administrasi tata usaha, yaitu segenap proses kegiatan pengelolaan surat-menyurat yang dimulai dari menghimpun (menerima), mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan semua bahan keterangan yang diperlukan oleh organisasi. Dengan pengertian ini maka tata laksana atau tata usaha bukan hanya meliputi surat-surat saja tetapi semua bahan keterangan atau informasi yang berwujud warkat.
Menurut William Leffingwe dan Edwin Robinson yang telah diterjemahkan oleh The Liang Gie (2000:60) pekerjaan kantor atau tata laksana ini pekerjaannya menyangkut segala usaha perbuatan menyangkut warkat, pemakaian warkat-warkat dan pemeliharaannya guna dipakai untuk mencari keterangan di kemudian hari. Warkat-warkat ini mungkin merupakan sejarah dari pelaksanaan urusan-urusan badan usaha itu sebagaimana digambarkan oleh daftar-daftar perhitungan, surat-menyurat, surat-surat perjanjian, surat-surat perjanjian, surat-surat pesanan, daftar harta benda, rencana-rencana, laporan-laporan dan semua jenis nota-nota yang tertulis atau tercetak.
Pekerjaan tata usaha meliputi rangkaian aktivitas menghimpun, mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam setiap usaha kerja sama.
Menurut The Liang Gie (2000:50).
a. Menghimpun yaitu kegiatan mencari dan mengusahakan tersedianya segala keterangan yang tadinya belum ada atau berserakan di mana-mana sehingga siap dipergunakan bilamana diperlukan.
b. Mencatat yaitu melipuri kegiatan membubuhkan dengan berbagai alat tulis-menulis mengenai keterangan-keterangan yang diperlukan sehingga terwujudlah tulisan-tulisan yang dapat dibaca, dikirim atau disimpan.
c. Mengolah yaitu bermacam-macam kegiatan mengerjakan keterangan-keterangan dengan maksud menyajikan dalam bentuk yang lebih berguna atau lebih jelas untuk dipakai.
d. Menggandakan yaitu kegiatan memperbanyak dengan berbagai cara dan alat sebanyak jumlah yang diperlukan.
e. Mengirim yaitu kegiatan menyampaikan dengan berbagai cara dan alat dari pihak pertama ke pihak lain.
f. Menyimpan yaitu kegiatan menaruh dengan berbagai cara dan alat di tempat tertentu yang aman.
Secara ringkas kegiatan penyelenggaraan pengelolaan keterangan-keterangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Aktivitas : menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim dan menyimpan.
2. Sasaran kegiatan : keterangan-keterangan yang berupa warkat.
3. Kerja yang nampak di kantor : mengetik, menghitung, men-cap, menelpon, menyalin, mendikte, memilah-milah, melekatkan, menandai, menyampuli, membagi-bagi, melubangi dan sebagainya.
4. Ciri-ciri :
a. bersifat pelayanan,
b. merembes kemana-mana,
c. dilakukan oleh semua pihak, dan
d. banyak memakai alat tulis, berkas mata dan pikiran.
5. Peranan :
a. Membantu pelaksanaan pekerjaan induk dalam setiap organisasi.
b. Menyediakan keterangan untuk pimpinan.
c. Melancarkan perkembangan organisasi.
6. Peralatan :
a. material lembaran,
b. material non lembaran,
c. alat tulis dan non tulis, dan
d. mesin kantor dan perabot kantor serta perlengkapan lain-lain.
7. Hasil kerja : formulir, surat-surat, warkat lain, buku, benda-benda berketerangan dan sebagainya.
B. Jenis-jenis kegiatan dan tugas-tugas ketatausahaan
1. Jenis- jenis kegiatan ketatausahaan
Pekerjaan ketatausahaan bukan monopoli petugas administrasi saja, tetapi juga pegawai edukatif. Dalam bagian ini akan disajikan kegiatan tata usaha khususnya yang dilakukan oleh tenaga administratif. Bagian ketatausahaan sekolah dimaksudkan untuk dapat mempermudah proses penyelenggaraan di sekolah. Secara terperinci kegiatan yang dibantu kemudahannya adalah:
a) Kegiatan yang menyangkut manajemen kurikulum.
Manajemen kurikulum adalah segala proses penyelenggaraan yang bertujuan memperlancar pelaksanaan proses belajar mengajar agar efektif dan efisien. Penyusunan jadwal, pembuatan kalender akademik dan sebagainya biasa dilakukan oleh kepala sekolah atau diserahkan kepada seorang/beberapa orang guru. Mereka hanya mengerjakan penyusunannya tetapi pengerjaan penulisan ke papan tulis besar diserahkan ke tata usaha.
b) Kegiatan yang menyangkut manajemen siswa.
Pekerjaan tata usaha yang menunjang manajemen siswa banyak berhubungan dengan hak dan kewajibannya sebagai pegawai negeri sipil antara lain:
1) Mendaftar calon siswa (mulai dari pengadaan formulir).
2) Mengisi buku induk dan buku klaper.
3) Mengurus dan mengatur warkat-warkat jika ada pemindahan siswa.
4) Mengisi daftar presensi sampai menghitung prosentasenya.
5) Mengatur ruang kelas, ruang laboratorium dan ruang kegiatan yang lain.
6) Membuat laporan dan statistik mengenai keadaan siswa setiap bulan dan setiap tahun.
c) Kegiatan yang menyangkut manajemen personil.
Pekerjaan tata usaha yang menunjang manajemen personil banyak berhubungan dengan hak dan kewajibannya sebagai pegawai sipil antara lain:
1. Melaksanakan pengetikan dan pengaturan warkat untuk pengangkatan sebagai pegawai negeri, mengatur permintaan tanda tangan dari kepala sekolah dan mengirimkannya.
2. Membantu memperbanyak salinan surat-surat keputusan serta lampiran-lampiran yang dibutuhkan untuk pengurusan kenaikan pangkat, penggunaan hak cuti atau pensiun.
3. Menyiapkan, menyimpan, dan menisci kartu pegawai.
4. Menyiapkan blangko-blangko presensi pegawai.
5. Membantu kepala sekolah dalam membuat laporan statistik keadaan pegawai edukatif dan administratif.
6. Mengerjakan tugas-tugas lain, baik bersifat rutin maupun insidental.
d) Kegiatan yang mengenai penataan inventaris sekolah.
1. Pekerjaan inventaris sebenarnya menyangkut bagian manajemen sarana, yaitu mencatat keluar masuknya barang, pemeliharaan dan penyimpanannya. Pekerjaan ketatausahaan yang menyangkut penataan inventaris meliputi: Pencatatan masuknya barang-barang, member label dan nomor inventaris, mengklasifikasikan.
2. Pencatatan keluarnya barang-barang misalnya digunakan, dipinjam, dihibahkan (diberikan kepada lembaga lain atau perseorangan), disingkirkan.
e) Kegiatan yang menunjang penataan keuangan.
Kegiatan yang dikerjakan dalam penataan surat-menyurat dipisahkan menjadi: pengurusan surat-menyurat masuk, pengurusan penyimpanan surat (kearsipan), dan pengurusan surat-surat keluar.
1. Pengurusan surat-surat masuk (agenda)
Mencatat nomor dan tanggal surat dalam buku agenda surat masuk yang kolomnya terdiri dari: (tanggal diterimanya surat, nomor urut, kode, alamat surat, nomor surat, pokok surat/keterangan)
Menyerahkan surat kepada alamat,
Surat dibaca oleh alamat yang dituju dan diberi disposisi.
Surat dikembalikan kepada tata usaha untuk dibuatkan balasan (jika memang dikehendaki demikian)
Tata usaha melaksanakan disposisi.
Tata usaha menyerahkan kembali surat tersebut kepada bagian yang mengurus surat keluar.
Pengarsipan surat tersebut.
2. Pengurusan surat keluar (ekspedisi)
Pengurusan surat keluar dilakukan dengan urutan:
Surat yang sudah diketik diserahkan kepada kepala sekolah untuk disetujui dan dimintai tanda tangan.
Membubuhkan cap di sebelah kiti tanda tangan pimpinan.
Memasukkan surat yang akan dikirim ke dalam sampul dan megrsipkan surat tembusannya menurut cara pengarsipan.
Mencatat surat ke dalam akan dikirim ke dalam buku ekspedisi.
Mengirimkan surat tersebut ke alamat.
3. Pengeturan penyimpanan surat (pengarsipan)
Surat-surat yang sudah selesai diproses lalu diarsipkan. Kegiatan kearsipan adalah menyimpan dan memelihara arsip tersebut ke dalam filing cabinet atau almari arsip agar tetap utuh dan mudah dicari kembali apabila diperlukan.
Penanganan arsip yamg baik menjadi satu tanda bahwa kantor atau lembaga itu pengelolaan usahanya baik. Arsip adalah suatu barang-barang yang berharga yang mengandung nilai kegunaan sejarah. Apabila pengarsipan dilakukan dengan baik, maka warkat yang sudah lama disimpan pun akan mudah ditemukan kembali.
Cara-cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyimpanan arsip dilakukan:
Menurut tanggal masuknya surat
Menurut pokok/surat
Menurut daerah asal surat
Menurut abjad nama pengirim surat
Untuk lebih mudahnya, biasanya warkat arsip tersebut dimasukkan ke dalam odner. Agar bahan-bahan yang terbuat dari kertas ini tidak lekas rusak dimakan ngengat, maka sebaiknya diberi kapur barus.
f) Kegiatan yang mengenai pekerjaan surat-menyurat.
Dalam keuangan sekolah, ada bermacam-macam bendahara. Bermacam-macam bendahara yang ada mengerjakan administrasi keuangan. Bendahara Negara yang diangkat dan ditetapkan dengan surat keputusan yang mempunyai tugas menerima, membagikan, dan mempertanggungjawabkan. Yang dimaksud adalah bendahara yang mengurusi gaji pegawai dan mengurusi uang otorisasi. Uang otorisasi atau uang yang dipertanggungjawabkan, proses pengajuan permintaannya sampai dengan proses pengambilan gaji.
g) Kegiatan yang menunjang manajemen sarana
Kegiatan ketatausahaan yang menyangkut administrasi sarana yang sebenarnya sebagian besar sebenarnya telah berhubungan dengan ketatausahaan yang mengenai inventarisasi. Di samping penataan inventaris, tata usaha yang lain adalah ketatausahaan mengenai perencanaan pengadaan yang dimulai dari mendaftar alat/sarana, menyeleksi dan mendaftar kebutuhan. Selain kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan yang berhubungan dengan bidang garapan administrasi sekolah, masih ada satu kegiatan lain yaitu kegiatan yang menunjang pengaturan tata ruang kantor, termasuk juga halaman dan ruang-ruang yang lain. Kegiatan ini kadang-kadang disatukan dengan kegiatan sarana menjadi kegiatan sarana prasarana. Kegiatan terakhir ini hampir seluruhnya dikerjakan oleh para pekerja atau pesuruh.
Kegiatannya mencakup:
1) Menjaga kebersihan ruangan, halaman, dan tempat-tempat lain yang termasuk wilayah sekolah.
2) Menjaga keamanan khususnya pada waktu tidak berlangsung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
3) Mengurus kebun dan tanaman-tanaman yang ada.
4) Mengedarkan surat edaran, pengumuman sekolah, mengantar surat ke instansi lain atau orang tua siswa dan sebagainya.
5) Menyediakan minuman untuk semua pegawai dan tamu.
4. Tugas-Tugas Tu (Tata Usaha)
Pengalaman dan sertifikasi pendidikan (ijazah) sangat menentukan dalam kerja mereka, dan mereka bekerja pada disiplin ilmu mereka maing-masing. Sementara aktivitas semua staf TU di sekolah-sekolah di Indonesia tampaknya harus bisa bekerja di semua bidang yang ditugaskan oleh Kepala Sekolah dan Kepala TU. Mereka bertugas dalam berbagai bidang, baik bekerjasama dengan kepala sekolah dan guru atau mereka bekerja sendiri. Tugas mereka meliputi, membantu proses belajar mengajar, urusan kesiswaan, kepegawaian, peralatan sekolah, urusan infrastruktur sekolah, keuangan, bekerja di laboratorium, perpustakaan, dan hubungan masyarakat (sumber:hasil rapat Kepala Tata Usaha Bogor :1996)
Mill dan Standingford (1982) menyebutkan 8 tugas administrasi yaitu:
a) Menulis surat
b) Membaca
c) Menyalin (menggandakan)
d) Menghitung
e) Memeriksa
f) Memilah (menggolongkan dan menyatukan)
g) Menyimpan dan menyusun indeks
h) Melakukan komunikasi (lisan dan tertulis)
C. Ketatausahaan Yang Lain
Disamping ketatausahaan yang menyangkut pekerjaan administrasi dan surst menyurat, masih ada lagi ketatausahaan lain yang diperlikan disekolah.
1. Daftar Hadir Pegawai
Daftar hadir merupakan alat untuk mengetahui kerajinan atau kedisiplinan pegawai, baik edukatif maupun administrative. Daftar hadir ini diletakkan dimeja kantor guru atau ruang kepala sekolah yang harus ditandatangani pegawai bila masuk kerja. Dengan demikian dapat diketahui dengan pasti kerajinan pegawai. Data dalam daftar hadir akan membantu objekyivitas kepada kepala sekolah dalam mengisi format BP3.
2. Buku Piket
Selain buku daftar hadir, perlu juga disekolah disediakan buku piket. Buku ini diisi oleh guru piket agar kejadian – demi kejadian yang muncul tiap hari dapat diketahui oleh semua guru yanga bekerja di sekolh itu dan terutama oleh Kepala Sekolah. Data yang tertulis dalam Buku Piket merupakan bukti otentik dari hal yang terjadi setiap hari.
3. Buku Notulen Rapat Sekolah
Rapat sekolah merupakan momentum penting yang tidak dapat diabaikan. Hal yang dibicarakan dalam rapat serta keputusannya harus dituliskan dalam bentuk notulen rapat. Pengisian buku notUla rapat diisikan oleh guru yang ditunjuk oleh Kepala Sekolah secara bergilir
Hal - hal yang perlu dicatat dalam Notulen Rapat antara lain:
a. Hari, Tanggal Rapat
b. Waktu dan Tempat diselenggarakan rapat
c. Acara rapat
d. Daftar hadir rapat (siapa yang diundang dan siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, alasannya kenapa)
e. Risalah jalannya rapat
f. Keputusan rapat
g. Tanda Tangan Kepala Sekolah dan Notulis
D. Ketatausahaan Sekolah yang Baik
Masa depan sebuah sekolah sebagian besar ditentukan oleh orang-orang yang ada di sebuah lingkungan sekolah. Untuk meraih masa depan sekolah yang lebih baik, seyogyanya setiap personalia sekolah saling bersinergi, bekerjasama dan sama-sama bekerja dengan penuh keikhlasan untuk mewujudkan masa depan sekolah yang lebih baik, lebih mencerahkan dan lebih mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penempatan pegawai tata usaha sekolah ke depan seharusnya benar-benar empertimbangkan mutu, kemampuan, kecakapan, atau keahlian yang memadai untuk melaksanakan tugas mereka di bidangnya masing-masing. Diharapkan ke depan pegawai tata usaha sekolah benar-benar tenaga profesional di bidangnya, seperti profesional di bidang manajemen perpustakaan, profesional di bidang manajemen keuangan sekolah, profesional di bidang kearsipan, profesional di bidang teknologi informatika komputer. Dan penempatan tenaga profesional di lingkungan tata usaha sekolah ini seyogyanya mengacu pada prinsip the righ man on the righ job.
Selain memiliki kemampuan, keahlian atau kecakapan yang memadai, yang tidak kalah pentingnya ialah pegawai TU sekolah di masa depan harus memiliki visi dan komitmen yang kuat untuk turut memajukan dunia pendidikan. Sekolah di samping menjadi “lahan penghidupan” juga harus dipandang sebagai lahan untuk beramal. Sehingga setiap pekerjaan tidak harus selalu diukur dengan materi yang akan diterima. Seyogyanya prinsip hidup berbuat dan memberikan yang terbaik” menjadi budaya setiap individu di lingkungan sekolah. Ini juga berarti pegawai TU sekolah juga harus memiliki kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial di samping kompetensi profesional.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Tata laksana pendidikan sering disebut dengan istilah administrasi tata usaha, yaitu segenap proses kegiatan pengelolaan surat-menyurat yang dimulai dari menghimpun (menerima), mencatat, mengelola, menggandakan, mengirim dan menyimpan semua bahan keterangan yang diperlukan oleh organisasi.
2) Jenis-jenis kegiatan dalam urusan ketatausahaan:
a. Kegiatan yang menyangkut manajemen kurikulum.
b. Kegiatan yang menyangkut manajemen siswa.
c. Kegiatan yang menyangkut manajemen personil.
d. Kegiatan yang mengenai penataan inventaris sekolah.
e. Kegiatan yang menunjang penataan keuangan.
f. Kegiatan yang menunjang manajemen sarana.
g. Kegitan yang menunjang manajemen sarana.
3) Berdasarkan surat dan kepengurusannya, surat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Surat dinas
b. Nota dinas
c. Memorandum (memo)
d. Surat pengantar
e. Surat kawat (telegram)
f. Surat edaran
g. Surat undangan
h. Surat keputusan
i. Instruksi
j. Surat tugas
k. Pengumuman
4) Disamping ketatausahaan yang menyangkut pekerjaan administrasi dan surst menyurat, masih ada lagi ketatausahaan lain yang diperlikan disekolah.
a. Daftar Hadir Pegawai
b. Buku Piket
c. Buku Notulen Rapat Sekolah
B. Saran
1) Setiap sekolah harus memiliki ketatausahaan yang baik agar semua urusan yang berhubungan dengan kepentingan sekolah dapat diatur dengan baik.
2) Pegawai yang mengurusi bagian ketatausahaan hendaknya mengetahui tugas-tugas ketatausahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Ansyar, Mohammad. 1989. Dasar Dasar Ketatausahaan Sekolah. Jakarta: Depdikbud
http://blog.elearning.unesa.ac.id/marita-fadhilah/menejemen-ketatausahaan-sekolah
About Me
Tuker Link
Blogger Login Form
Buku Tamu
lirik dan kord terbaru
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
Rabu, 06 Maret 2013
makalah administrasi pendidikan
Diposting oleh
Mahe
di
20.11
0
komentar
Selasa, 05 Maret 2013
Al-Ikhwan Al-Muslimun
9. Al-Ikhwan Al-Muslimun
09/30/2001
09/30/2001
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Al-Ikhwan
al-Muslimun adalah sebuah gerakan Islam terbesar di zaman modern ini. Seruannya
ialah kembali kepada Islam sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan
As-Sunnah serta mengajak kepada penerapan syari'at Islam dalam kehidupan nyata.
Dengan tegar gerakan ini telah mampu membendung arus sekularisasi di dunia Arab
dan Islam.
SEJARAH BERDIRI DAN TOKOH-TOKOHNYA
Pendirinya
adalah Syaikh Hasan al-Banna (1324 - 1368 H/1906 - 1949 M). Lahir di sebuah
kampung di kawasan Buhairah, Mesir. Ia tumbuh di dalam lingkungan yang taat
beragama, yang menerapkan Islam secara nyata dalam seluruh aspek kehidupannya.
Di samping
belajar agama di rumah dan di masjid, ia belajar pada sekolah pemerintah. Kemudian
melanjutkan pelajarannya ke Dar al-'Ulum, Kairo dan tamat pada tahun 1927.
Setelah tamat
dari Dar al-'Ulum, ia menjadi guru pada sebuah sekolah dasar di Isma'iliyyah.
Dari Isma'iliyyah inilah ia memulai aktivits keagamaannya di tengah-tengah
masyarakat, terutama di warung-warung kopi di hadapan para karyawan Proyek
Terusan Suez.
Dzul Qa'idah
1327 H/April 1928 M adalah bulan didirikannya cikal bakal gerakan Al-Ikhwan
al-Muslimun.
Tahun 1932
Hasan al-Banna pindah ke Kairo. Bersama itu pula gerakannya berpindah dari
Isma'iliyyah ke Kairo.
Tahun 1352
H/1933 M beliau menerbitkan sebuah berita pekanan Ikhwan yang dipimpin oleh
Ustadz Muhibuddin Khatib (1303 - 1389 H/1886 - 1969 M). Kemudian tahun 1357
H/1938 M terbit majalah al-Nadzir. Lalu menyusul al-Syihab, tahun 1367 H/1947
M. Seterusnya majalah dan berita-berita Ikhwan terbit secara teratur.
Pada awal
berdirinya, tahun 1941 M, gerakan Ikhwan hanya beranggotakan 100 orang, hasil
pilihan langsung ustadz Hasan al-Banna sendiri.
Tahun 1948
Ikhwan turut serta dalam perang Palestina. Mereka masuk dalam angkatan perang
khusus. Peristiwa ini telah direkam secara rinci oleh ustadz Kamil Syarif dalam
bukunya 'Al-Ikhwan al-Muslimun fi Harbi Falasthin.
Pada tanggal 8
Nopember 1948, Muhammad Fahmi Nagrasyi, perdana menteri Mesir waktu itu,
membekukan gerakan Ikhwan dan menyita harta kekayaannya serta menangkap
tokoh-tokohnya.
Desember 1948,
Naqrasyi diculik. Orang-orang Ikhwan dituduh sebagai pelaku penculikan dan
pembunuhan tersebut. Ketika jenazah Naqrasyi di usung, pendukung-pendukungnya
berteriak-teriak, "Kepala Naqrasyi harus dibayar dengan kepala Hasan
al-Banna." Dan pada tanggal 12 Pebruari 1949 Hasan al-Banna terbunuh oleh
pembunuh misterius.
Tahun 1950
berdasarkan keputusan Dewan Tertinggi Negara, Ikhwan direhabilitasi. Ketika itu
Mesir diperintah oleh kabinet al-Nuhas. Dewan tersebut juga memutuskan bahwa
pembekuan Ikhwan selain tidak sah, juga inkonstitusional.
Tahun 1950
ustadz Hasan al-Hudhaibi (1306 -1393 H/1891 - 1973 M), terpilih menjadi Mursyid
'Al-Mahdi Al-Ikhwan al-Muslimun. Ia adalah salah seorang tokoh kehakiman Mesir.
Ia juga berkali-kali ditangkap. Tahun 1954, ia divonis hukuman mati, tetapi
kemudian diringankan menjadi seumur hidup. Tahun 1971 ia dibebaskan terakhir
kalinya.
Oktober 1951
konflik antara Mesir dn Inggris semakin memuncak. Ikhwan melancarkan perang
urat saraf melawan Inggris di Terusan suez. Peristiwa ini telah direkam oleh
Kamil Syarif dalam bukunya 'Al-Muqawamat al-Sirriyyah fi Qanat Suwes.
Tanggal 23 Juli
1952, pasukan Mesir di bawah pimpinan Muhammad Najib, bekerja sama dengan
Ikhwan melancarkan Revolusi Juli. Tetapi kemudian Ikhwan menolak kerja sama
dalam pemerintahan, karena mereka mempunyai pendapat dan pandangan yang jelas
tentang metode revolusi. Jamal Abdunnashr menganggap penolakan tersebut sebagai
penolakan terhadap mandat revolusi. Kemudian kedua belah pihak terlibat
serangkaian konflik dan permusuhan yang semakin hari semakin tajam. Akibatnya,
tahun 1954, pihak pemerintah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap
anggota Ikhwan dan beribu-ribu orang dijebloskan ke dalam penjara. Alasan
pemerintah, karena orang Ikhwan telah berupaya memusuhi dan mengancam kehidupan
Jamal Abdunnashr di lapangan Mansyiyyah, Iskandariyyah. Bahkan pemerintah Mesir
telah menghukum mati 6 anggota Ikhwan.
- Abdulqadir Audah
- Muhammad Farghali
- Yusuf Thal'at
- Handawi Duwair
- Ibrahim Thayyib
- Muhammad Abdullathif
Tahun 1965 -
1966 bentrokan antara Ikhwan dan pemerintah Mesir terulang kembali untuk kedua
kalinya. Pemerintah kembali melakukan penangkapan besar-besaran, melakukan
penyiksaan serta memenjarakan anggota Ikhwan. Bahkan tiga orang di antarannya
telah dihukum gantung, yaitu :
Sayyid Quthb
(1324 - 1387 H/1906 - 1966 M). Ia termasuk pemikir Ikhwan nomor dua setelah
Hasan al-Banna. Dan termasuk salah seorang tokoh Islam di zaman modern ini.
Ditangkap tahun 1954 M dan disekap di dalam penjara selama 10 tahun. Tahun 1964
ia dikeluarkan dari penjara atas desakan presiden Irak, Abdussalam Arif. Namun
tak lama kemudian ia diculik kembali untuk menghadapi hukuman mati.
Yusuf Hawasi
Abdulfattah Isma'il
Sejak itu Ikhwan bergerak secara rahasia sampai Jamal Abdunnashr meninggal dunia 28 September 1970.
Yusuf Hawasi
Abdulfattah Isma'il
Sejak itu Ikhwan bergerak secara rahasia sampai Jamal Abdunnashr meninggal dunia 28 September 1970.
Ketika Anwar
Sadat berkuasa, orang-orang Ikhwan mulai di lepas secara bertahap.
Sepeninggal
Hudhaibi, Umar Tilmisani (1904?1986 M) terpilih menjadi Mursyid. Di bawah
pimpionannya Ikhwan menuntut hak-hak jama'ah secara utuh dan mengembalikan hak
milik jama'ah yang dibekukan oleh Jamal Abdunnashr. Tilmisani menempuh jalan
tidak konfrontatif dengan penguasa dan berkali-kali beliau menyerukan,
"Bergeraklah dengan bijak dan hindarilah kekerasan dan extremisme."
Di luar Mesir
banyak tikoh-tokoh Ikhwan yang muncul, antara lain :
Syaikh Muhammad
Mahmud Shawwaf, pendiri dan pengawas umum Ikhwan di Irak.
Dr. Mushthafa al-Siba'i, pengawas umum pertama Ikhwan di Suriah.
Gerakan Ikhwan di Yordania berdiri tanggal 13 Ramadhan 1364 H. pemimpin pertanya ialah Syaikh Abdullathif Abu Qurrah.
Dr. Mushthafa al-Siba'i, pengawas umum pertama Ikhwan di Suriah.
Gerakan Ikhwan di Yordania berdiri tanggal 13 Ramadhan 1364 H. pemimpin pertanya ialah Syaikh Abdullathif Abu Qurrah.
PEMIKIRAN DAN DOKTRIN-DOKTRINNYA
Pemahaman
Ikhwan terhadap Islam bersifat universal, tidak mengenal adanya pemisahan
antara satu aspek dengan aspek lainnya.
Kaitanya dengan
dakwah Ikhwan, Syaikh Hasan al-Banna mengatakan, "Gerakan Ikhwan adalah
dakwah salafiyah, thariqah sunniyah, haqiqah shufiyyah, lembaga politik, klub
olah raga, lembaga ilmiah dan kebudayaan, perserikatan ekonomi dan pemikiran
sosial."
Selanjutnya
Syaikh Hasan al-Banna mengatakan bahwa ciri gerakan Ikhwan dalah:
- Jauh dari sumber
pertentangan.
- Jauh dari pengaruh riya dan
kesombongan.
- Jauh dari partai politik dan
lembaga-lembaga politik.
- Memperhatikan kaderisasi dan
bertahap dalam melangkah.
- Lebih mengutamakan aspek
aspek amaliyah produktif dari pada propaganda dan reklame.
- Memberi perhatian sangat
serius kepada para pemuda.
- Cepat tersebar di
kampung-kampung dan dikota-kota.
Selain itu
Syaikh menyebutkan karakteristik Ikhwan sebagai berikut :
- Gerakan Ikhwan adalah gerakan
Rabbaniyyah. Sebab azas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan
manusia kepada Rabb-nya.
- Gerakan Ikhwan bersifat
'alamiyah (Internasional). Sebab arah gerakan ditujukan kepada semua umat
manusia.
- Gerakan Ikhwan bersifat
Islami. Sebab orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.
Selain itu juga Syaikh menetapkan tingkatan amal yang merupakan konsekuensi logis setiap anggota, yaitu :
- Memperbaiki diri, sehingga
menjadi pribadi yang kuat fisik, teguh dlam berakhlak, luas dalam
berfikir, mampu mencari nafkah, lurus berakidah dan benar dalam beribadah.
- Membentuk rumah tangga
islami.
- Memotifasi masyarakat untuk
menyebarkan kebaikan, memerangi kemungkaran dan kerusakan.
- Memerdekakan negara dengan
membersihkan rakyatnyas dari berbagai bentuk kekuasaan asing kuffar di
bidang poplitik, ekonomi ataupun mental spiritual.
- Memperbaiki pemerintahan
sehingga benar-benar menjadi pemerintahan yang islami.
- Mengembalikan eksistensi
negara-negara Islam dengan memerdekakan negerinya dan menghidupkan kembali
keagungannya.
- Menjadi guru dunia dengan
menyebarkan Islam ke tengah-tengah umat manusia, sehingga tidak ada fitnah
lagi dan Dien hanya benar-benar milik Allah.
"Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan Nur (Dien)-Nya." (Q.S. at-Taubah :32).
Tentang tahapan
dakwah Hasan al-Banna membaginya menjadi tiga tahap :
- Tahap pengenalan.
- Tahap pembentukan.
- Tahap pelaksanakan.
Dalam Risalah
Ta'alim, Hasan al-Banna berkata, "Rukun Bai'at kita ada sepuluh. Karena
itu hafallah baik-baik. Yaitu: Faham, Ikhlas, Amal, Jihad, Berkorban, Tetap
pada pendirian, Tulus, Ukhuwah dan percaya diri." Kemudian beliau berkata,
"Wahai saudaraku yang sejati! Ini merupakan garis besar dakwah Anda. Anda
dapat menyimpulkan prinsip-prinsip tersebut menjadi lima kalimat berikut :
- Allah tujuan kami.
- Rasulullah SAW. teladan kami.
- Al-Qur'an dustur kami.
- Jihad jalan kami.
- Mati shahid cita-cita kami yang
tertinggi.
Ciri-cirinya
dapat disimpulkan menjadi lima kata, yaitu : sederhana, membaca Al-Qur'an,
shalat, sikap kesatria dan akhlaq."
Ustadz Sayyid
Quthb, dalam bukunya Khashaish al-Tashawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu,
memberikan gambaran tentang pemahamannya dan pemahaman Ikhwan. Karakteristik
konsep Islam itu berazaskan kepada :
- Rabbaniyyah
- Tetap
- Seimbang
- Positif
- Realistik
- Tauhid.
Setiap
karakteristik diberi penjelasan tersendiri secara gamblang dan luas.
Lambang
Al-Ikhwan al-Muslimun adalah dua bilah pedang menyilang melingkari Al-Qur'an,
ayat Al-Qur'an)(æÇÚ쾂 ) dan tiga kata: haq(kebenaran), quwwah(kekuatan) dan
hurriyyah(kemerdekaan).
AKAR PEMIKIRAN DAN SIFAT IDIOLOGINYA
Al-Ikhwan
al-Muslimun telah mengadopsi dakwah salafiyyah menjadi gerakan dakwahnya. Ia
menekankan kepada pentingnya penelitian dan pembahasan terhadap dalil serta
pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dan membersihkan diri dari
segala bentuk kemusrikan untuk mencapai kesempournaan tauhid.
Dakwah Ikhwan
banyak dipengaruhi oleh Syaikh Abdulwahhab, Sanusiyyah dan Rasyid Ridha. Pada
umumnya dakwah tersebut merupakan kelanjutan dari Madrasah Ibnu Taimiyyah
(wafat 702 H/1328 M), yang juga merupakan kelanjutan Madrasah Imam Ahmad bin
Hambal.
Ikhwan
merupakan tashawwuf sebagai sarana pendidikan dan peningkatan jiwa seperti
pernah dilakukan para ahli tashawwuf terdahulu yang aqidahnya benar dan jauh
dri segala bentuk bid'ah, khurafat, menghina diri dan sifat negatif.
Hasan al-Banna
merangkum semua pemahaman tersebut dalam dakwahnya. Ditambah pula dengan
konsepsi-konsepsi yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan lingkungan. Sehingga
dakwahnya mampu menghadapi berbagai arus yang melanda Mesir dan kawasan lain.
PENYEBARAN DAN KAWASAN PENGARUHNYA
Gerakan Ikhwan
dimulai di Isma'iliyyah kemudian beralih ke Kairo. Dari Kairo tersebar ke
berbagai pelosok dan kota do Mesir. Akhir tahun 40-an, cabang Ikhwan di Mesir
sudah mencap[Aisyah 3000. Tiap cabang memiliki anggota yang cukup banyak.
Gerakan
tersebut kemudian meluas ke negara-negara Arab. Ia berdiri kukuh di Suriah,
Palestina, Yordania, libanon, Irak, Yaman dan lain-lain. Dewasa ini anggota dan
simpatisannya tersebar di berbagai penjuru dunia
|
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Copyright © Al-Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430 Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712 E-Mail: info@alislam.or.id |
Diposting oleh
Mahe
di
08.27
0
komentar
The Bilalians
8. The Bilalians
10/22/2001
10/22/2001
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Adalah sebuah
gerakan atau organisasi keagamaan di AS yang berasal dari akidah atau agama
kepercayaan berkembang menuju kepada aqidah Islam. Dalam perkembangannya
gerakan atau organisasi ini menuju kapada yang benar, sedikit-demi sedikit;
maka lebih tepatnya sebagai suatu gerakan keagamaan yang sedang mencari bentuk
menuju suatu yang haq menuju Islam yang benar. Oleh karena itu lebih tepat
dikelompokan kedalam organisasi keagamaan Islam.
Ta'rif: 'Umat Islam'
adalah sebutan terhadap gerakan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Muslim
kulit hitam di Amerika. Mereka mengadopsi Islam dengan pemahaman-pemahaman
tersendiri yang didominasi semangat rasialisme. Gerakan ini kemudian dikenal
dengan nama 'Bilalians', setelah sebagian doktrin-doktrinnya diperbaiki.
SEJARAH BERDIRI
DAN TOKOH-TOKOHNYA
Gerakan ini
pertama kali didirikan oleh Wallace D. Fard, seorang kulit hitam yang tidak
jelas keturunannya. Secara tiba-tiba ia muncul di Detroit tahun 1930, menyeru
orang-orang kulit hitam mengikuti madzhabnya. Juni 1934 ia menghilang secara
misterius.
Setelaah Elijah
Pool atau Elijah Muhammad (1898-1975) masuk ke pergerakan ini, kegiatannya
semakin meningkat, berkembang pesat dan popular. Sehingga ia menduduki beberapa
posisi penting, malah menggantikan kedudukan Wallace, sebagai ketua pergerakan.
Tahun 1959 ia mengunjungi Saudi Arabia. Kemudian mengelilingi Turki, Ethiopia,
Sudan dan Pakistan. Dalam kunjungannya itu ia didampingi puteranya, Wallace
Muhammad yang sekaligus menjadi penerjemahannya.
Malcolm X
(Malik Syabbaz), salah seorang tokoh Bilalians yang pernah menjabat menteri
(istilah yang digunakan untuk seorang imam di tempat peribadatannya) untuk kuil
no. 7 di New York. Ia dikenal sebagai seorang orator dan pemikir. Pernah
melakukan tour ke negara-negara Timur Tengah dan beribadah haji tahun 1963.
Setelah kembali, ia tidak mengakui prinsip-prinsip gerakan rasialisme dan
menyatakan keluar dari gerakan. Kemudian ia membentuk sebuah kelompok yang
disebut 'Jama'ah Ahli Sunnah'. Tetapi akhirnya dia sendiri diculik dan dibunuh
pada tanggal 21 Februari 1965.
Tokoh lain yang
cukup terkenal ialah Louis Farrakhan. Ia masuk Islam pada tahun 1950. kemudian
ia menggantikan Malcolm X sebagai 'Menteri' untuk kuil no. 7 di New York. Dia
juga termasuk seorang orator, penulis dan penceramah. Tokoh ini dinilai sangat
erat dengan Kolonel Muammar Qaddafi. Ia menyerukan berdirinya sebuah negara
merdeka bagi orang-orang kulit hitam di Amerika, selama mereka tidak mendapat
hak-hak social dan politiknya secara utuh.
Wallace W.
Muhammad, dilahirkan di Detroit 30 Oktober 19933, menamakan dirinya
Waraatsuddin Muhammad. Tahun 1958-1960 ia menjabat 'Menteri' pada kuil di
Philadelpia. Tahun 1967 iamenunaikan haji. Setelah itu ia berulang kali
mengunjungi Saudi Arabia.
Tahun 1964 ia
memisahkan diri dari pergerakan dan membuang habis prinsip-prinsip yang dianut
ayahnya. Tetapi ia kembali lagi bergabung ke dalam pergerakan lima bulan
sebelum ayahny meninggal dunia dengan harapan ia dapat memasukkan ide-ide
perbaikan dari dalam terhadap pergerakan. Desember 1975 ia mengunjungi Islamic
Centre di Washington. Tahun 1977 M ia menghadiri muktamar yang diselenggarakan
Rabithah Alam Islami di New York di daerah New Jersey.
Tahun 1977 juga
ia menghadiri Konferensi Islam, sebagai ketua delegasi, yang dilaksanakan di
Kanada. Setiap kali menghadiri konferensi ia selalu menyatakan ketulusannya
dalam berupaya memahami Islam secara benar dan mengubah jama'ahnya dari
pemahaman-pemahaman keliru.
Tahun 1976 ia
mengunjungi Saudi Arabia, Turki dan sejumlah negara Timur serta menghadap
tokoh-tokoh Islam negara yang dikunjunginya.
Tahun 1975 ia
mengumumkan tokoh-tokoh pendamping selama ia memimpin jama'ah. Mereka adalah :
Karim Abdulaziz dan Dr. Na'Imam
Muslim Akbar : asisten khusus. Abdulhalim Farrakhan : juru bicara organisasi.
Dr. Abdulalim Syabbaz, Dr Fathimah Ali dan Fahmiyyah Sulthan : dewan penasehat bid. Kebudayaan.
John Abdulhaq : sekretris jenderal.
Elijah Muhammad II : komandan militer.
Reymond Syarif : ketua departemen kehakiman setelah menjadi komandan tertinggi pengawal pergerakan yang disebut Fruit of Islam disingkat FOI, didirikan tahun 1937.
Aminah Rasul : ketua departemen kewanitaan yang disebut MGT.
Dr. Michael Ramadhan : delegasi dari seluruh dewan masjid dan komisi pengarahan.
Thiroon Mahdi (bergabung ke dalam organisasi tahun 1967), menjabat sebagi kepala tim pembedah kerusakan dan penyakit social di kalangan anggota pergerakan yang dibentuk tahun 1976 dengan nama Blight Arrest Pioneer Patrol, disingkat BAPP, badan ini sebagai pengganti FOI.
Ibrahim Kamaluddin : pengawas New Eart Team (NET), semacam proyek perumahan bagi kepentingan angota organisasi di selatan Chicago.
Sultan Muhammad, cucu Elijah Muhammad, dipandang sebagai tokoh organisasi yang pemahaman keislamannya baik. Ia adalah imam untuk memimpin peribadatan di Washington.
Muhammad Ali Cly, petinju dunia termasyur ini pernah mengatakan bahwa Malcolm X yang menyebabkan ia tertarik dan bergabung ke dalam pergerakan ini. Ia termasuk salah satu anggota dewan yang dibentuk Wallace Muhammad setelah ia menjadi pemimpin pergerakan. Dewan termaksud bertujuan untuk menyusun perencanaan jama'ah yang matang.
PEMIKIRAN DAN
DOKTRIN-DOKTRINNYA
Perlu dicatat,
pemikiran pergerakan ini berkembang secara bertahap sesuai dengan kepribadian
pemimpin yang mempengaruhinya. Karena itu kita mungkin dapat membaginya tiga
fase.
Pertama : Fase
Wallace D. Fard
Pertama kali
berdiri organisasi ini dikenal dengan sebutan 'Umat Islam' (Nation of Islam).
Sering pula disebut sebagai 'Kembalinya Umat Islam yang Hilang'. Dalam fase ini
ide yang sangat menonjol ialah menekankan kepada seruan kebebasan, persamaan,
keadilan dan berjuang meningkatkan nasib anggota. Arah semuanya terfokus kepada
ketinggian ras kulit hitam dan keasliannya, menekankan kepada keterkaitan
mereka dengan kemurnian bangsa Afrika dan menyerang orang-orang kulit putih
sebagai syaitan-syaitan.
Untuk mencapai
sasaran tersebut mereka bekerja keras mengubah pedoman hidup para pengikutnya
dari Bibel kepada Al-Qur'an. Karena itu dibentuklah dua buah organisasi, Muslim
Girls Training (MGT), organisasi khusus wanita, dan Fruit of Islam (FOI),
sebuah organisasi khusus kaum pria yang arahnya lebih menjurus kepada sebuah
pasukan kuat yang dapat melindungi pergerakan dan mengamankan pusat social dan
politiknya.
Kedua : Fase
Elijah Muhammad
Elijah Muhammad
mengumumkan bahwa Tuhan bukan sesuatu yang ghaib, tetapi harus terjelma pada
diri seseorang. Seseorang termaksud adalah Fard, manusia yang telah ditempati
unsure-unsur ketuhanan. Dialah yang layak dimintai do'a dan diibadahi. Dengan
demikian ia telah menyuntikkan faham-aham kebathinan kepada jama'ahnya.
Sedangkan dia sendiri menempati posisi nabi, sehingga ia digelari 'Massager of
Allah', 'Utusan Allah'.
Pengikutnya
dilarang memakai kutek, meminum khamar, merokok berlebihan dalam makan,
berzina, bercampur baur antara pria dan wanita. Mereka dianjurkan menikah
antara sesama anggota. Selanjutnya para pengikutnya dilarang pula
bersantai-santai (mengunjungi) tempat-tempat hiburan dan warung kopi.
Organisasi ini
berusaha keras mengangkat ras kulit hitam. Bahkan dianggap sebagai sumber
segala makna kebaikan. Berbarengan dengan itu mereka tidak henti-hentinya
menghina bangsa-bangsa kulit putih, sebagai orang-orang hina dan rendah. Tidak
syak lagi bahwa pergerakanny hanya terbatas pada orang-orang kulit hitam.
Keterbatasan ini sangat jelas tampak dalam doktrin-doktrinnya.
Elijah hanya
mempercayai sesuatu yang dapat diraba. Karena itu, ia tidak mempercayai adanya
Malaikat dan Hari Kebangkitan. Sebab, menurutnya, yang dimaksud dengan
kebangkitan itu ialah kebangkitan berfikir orang-orang kulit hitam di Amerika.
Ia juga menolak
bahwa Nabi Muhammad sebagai Nabi teraklhir. Malah dia memproklamasikan dirinya
sebagai rasul teraklhir dengan alas an tidak ada seorang rasulpun yang dating
dengan bahasa kaumnya kecuali dia. Maka dialah, Elijah Muhammad telah dating
sebagai nabi yang membawa wahyu dari Fard dengan bahasa kaumya, yaitu bahasa
orang-orang kulit hitam.
Dia selain
percaya kepada kitab-kitab samawi, juga mempercayai satu kitab khusus yang akan
turun kepada kaumnya, orang-orang kulit hitam. Kitab ini merupakan kitab samawi
terakhir yang turun untuk umat manusia.
Pada masa
Elijah Muhammad, shalat lebih bersifat pembacaan surat Al-Fatihah, do'a-do'a
ma'tsur disertai dengan menghadap qiblat dan menghadirkan gambar Fard dalam
fikiran. Shalat semacam ini itu dilakukan lima kali dalam satu malam.
Setiap tahun
mereka berpuasa pada bulan Desember, sebagai pengganti puasa Ramadhan. Selain
itu anggotanya diwajibkan membayar iuran sebesar sepersepuluh dari
penghasilannya untuk kepentingan organisasi.
Dia menyusun
beberapa buku yang menggambarkan ide dan fikirannya. Antara lain, Massage to
the Blackman, Our Saviour has Arrived, Supreme Wisdom, The Fall of Amerika dan
How to Eat to Life? Untuk melengkapi pblikasinya mereka menerbitkan sebuah
buletin, 'Muhammad Speaks', dalam bahasa mereka.
Ketiga : Fase
Waritsuddin Muhammad
Tgl 24 Nopember
1975, nama organisasi diubah menjadi 'Bilalians', dinisbatkan kepada Bilal
al-Hansyi, mu'adzin Rasulullah SAW.
Tanggal 19 Juni
1975 Waritsuddin menghapus peraturan yang melarang kulit putih bergabung ke
dalam organisasi. Dampaknya, 25 Pebruari 1975, dalam sebuah pertemuan terbuka,
tampak sejumlah orang-orang kulit putih bergabung bersama mereka duduk
berdampingan. Bendera Amerika diletakkan berdampingan dengan bendera
organisasi. Sebelumnya bendera Amerika dipandang sebagai lambang kulit putih,
bermata biru, syaitan dan dedemit.
Tanggal 29
Agustus 1975 dikeluarkan sebuah keputusan perlunya penyelenggaraan puasa
Ramadhan dan upacara 'Idulfitri.
Tanggal 14
Nopember 1975, buletin Muhammad Speaks diubah menjadi 'Bilalians News'.
Kemudian menyusul pengumuman bahwa imam organisasi disebut Imam Akbar,
pengganti perdana menteri. Kata-kata 'menteri kuil' diubah menjadi imam, yang
tugas utamanya mengurusi social-sosial keagamaan. Sedangkan urusan lainya
diserahkan kepada pengurus pimpinan pusat organisasi. Seterusnya kuil-kuil
mereka direnovasi supaya sesuai dengan kepentingan penyelenggaraan shalat.
Tanggal 3
Oktober 1975 dikelurakan sebuah intruksi agar shalat dilakukan dengan benar,
seperti yang dilakukan umat Islam, lima kali dalam satu hari satu malam. Lalu
memperkokoh akhlak Islam dalam tata krama, perasaan, bersikap dan berhijab bagi
wanita.
Para da'i
organisasi melakukan kunjungan ke penjara-penjara, menyiarkan dakwah kepada
penghuninya. Sehubungan dengan program ini, para penjaga keamanan penjara telah
mencatat beberapa kemajuan bahwa pesakitan orang kulit hitam, yang terkenal
dengan kenakalan dan pembangkangannya, setelah masuk Islam, mereka menjadi
orang yang berdisiplin tinggi dan patuh. Dengan demikian bagian keamanan
penjara merasa sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan para da'i di
penjara.
Dalam rangka
perbaikan organisasi, pimpinan terus-menerus melakukan perbaikan terhadap
pemahaman keislaman anggotanya. Hal tersebut tidak berarti bahwa organisasi ini
telah berorientasi pada Islam yang benar 100 %. Tetapi, jika dibandingkan dengan
keadaan sebelumnya, periode ini telah menampakkan arah perbaikan yang nyata
menuju kepada yang lebih benar dalam beberapa segi, baik mengenai pemikiran
maupun aqidahnya. Karena itu, organisasi ini masih sangat memerlukan
perbaikan-perbaikan di bidang aqidah dan penerapannya sehingga benar-benar
menjadi aqidah dan penerapan Islam yang murni.
Sering terjadi
keguncangan di kalangan pemimpin organisasi ini. Salah satu akibatnya, tgl 15
Mei 1985, Waritsuddin mengumumkan pemecahan organisasi dan membiarkan setiap
Biro organisasi bekerrja sendiri-sendiri. Setiap hari ada saja sesuatu yang
baru mengenai nasib organisasi ini.
Ada pula
upaya-upaya yang dilakukan Mu'amar Qaddafi dan Iran untuk menyetir dan
mengarahkan supaya mengikuti kepentingan mereka. Di dalam organisasi ini sering
muncul tokoh-tokoh baru, selain tokoh-tokoh lama yang tenggelam entah kemana.
Kadang-kadang muncul pula perpecahan yang mengancam keutuhan organisasi secara
keseluruhan.
AKAR PEMIKIRAN
DAN SIFAT IDIOLOGINYA
Gerakan ini
muncul dibayang-bayangi oleh dua kekuatan besar yang tampil di tengah-tengah
orang kulit hitam. Dua kekuatan itu ialah :
Gerakan
Moorisme yang diserukan oleh Negro Amerika yang bernama Timothi Drew Ali
(1886-1929). Gerakan yang didirikan tahun 1913 ini adalah sebuah gerakan dakwah
yang ajarannya merupakan campuran antara prinsip-prinsip social dan aqidah
keagamaan yang ada di Asia. Mereka menggangap dirinya sebagai kaum Muslimin.
Namun gerakan ini praktis lumpuh setelah kematian pimppinannya.
Organisasi Marcus Garvey (1887-1940). Tahun 1916 Marcus mendirikan sebuah organisasi politik untuk orang-orang kulit hitam dengan nama Universal Negro Improvement Association. Organisasi ini dinyatakan sebagai gerakan Kristen dengan keyakinan bahwa Al-Masih dan ibunya sebagai orang Negro. Kemudian tahun 1925 pemimpin organisasi ini dibuang dari Amerika. Peristiwa inilah yang mengakibatkan kemunduran organisasi.
Karena The Bilalians dapat dikatakan sebagai gerakan yang memandang Islam sebagai warisan ruhani yang mempu menyelamatkan orang-orang Negro dari dominasi kulit putih dan mendorong mereka membentuk satu bangsa yang tersendiri, yang memiliki hak, kepentingan dan kedudukannya.
Organisasi Marcus Garvey (1887-1940). Tahun 1916 Marcus mendirikan sebuah organisasi politik untuk orang-orang kulit hitam dengan nama Universal Negro Improvement Association. Organisasi ini dinyatakan sebagai gerakan Kristen dengan keyakinan bahwa Al-Masih dan ibunya sebagai orang Negro. Kemudian tahun 1925 pemimpin organisasi ini dibuang dari Amerika. Peristiwa inilah yang mengakibatkan kemunduran organisasi.
Karena The Bilalians dapat dikatakan sebagai gerakan yang memandang Islam sebagai warisan ruhani yang mempu menyelamatkan orang-orang Negro dari dominasi kulit putih dan mendorong mereka membentuk satu bangsa yang tersendiri, yang memiliki hak, kepentingan dan kedudukannya.
PENYEBARAN DAN
KAWASAN PENGARUHNYA
Jumlah orang
Negro di Amerika lebih dari 35 juta jiwa. Sekitar satu juta dari mereka adalah
Muslim. Masjid mereka disebut Temples (kuil). The Bilalians memiliki sekitar 80
cabang yang tersebar di berbagai kota di Amerika dan memiliki lebih dari 60
lembaga pendidikan. Jam pertama dari jadwal pelajaran setiap harinya dikhususkan
untuk pelajaran agama Islam.
Umat Negro
berpusat di Detroit, Chicago dan Washington. Mereka memimpikan berdirinya
sebuah negara merdeka. Di antara mereka terjalin persaudaraan yang erat,
seperti tampak pada cara penyelesaian persoalan-persoalan umum organisasi dan
masyarakat Negro Muslim.
|
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Copyright © Al-Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430 Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712 E-Mail: info@alislam.or.id |
Diposting oleh
Mahe
di
08.26
0
komentar
Al-Irsyad Al-Islamiyyah
7. Al-Irsyad Al-Islamiyyah
11/07/2001
11/07/2001
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Muhammadiyah,
Al-Irsyad dan Persatuan Islam (Persis) merupakan tiga serangkai organisasi
Islam pembaharu yang paling berpengaruh di Indonesia. Pada awal abad XX
telah lahir sejumlah tokoh elit Muslim. Mereka memiliki semangat pembaharuan
dalam pemikiran keagamaan.
Semangat
reformasi itu datang bersamaan dengan maraknya perkembangan ide-ide reformasi
yang berkembang di Timur Tengah. Pada pertengahan abad XVIII, di Jazirah Arab
muncullah gerakan yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787).
Gerakan ini merupakan tanggapan nyata dari pemikiran Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah (1263-1328) dan muridnya yang terkenal Ibn Qayyim Al-Jauziyah
(1292-1350) dua orang tokoh reformis Islam yang memberi ciri awal munculnya
renesans dunia Islam, untuk kembali kepada kemurnian Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pada awal pekembangannya, Islam di Indonesia terutama pula Jawa yang juga pusat Kerajaan Hindu-Jawa, mengalami tantangan yang sungguh berat. Di mana pada umumnya keadaan masyarakat sudah memiliki keyakinan yang mendarah daging dengan kebudayaan Hindu yang kental. Akan tetapi perkembangan agama Islam di Indonesia terutama di Jawa menjadi pesat diantaranya karena peran yang cerdik dan kemampuan berdakwah yang handal dari tokoh-tokohnya pada jaman yang terkenal dengan sebutan "Wali Sanga/Wali sembilan." Tokoh Islam yang terkemuka pada jamannya itu, berdakwah menyebarkan agama dengan contoh ketauladanan dan kemampuan spiritualnya yang tinggi serta mengikuti atau menyiasati keadaan tradisi dan kebudayaan setempat dengan mendahulukan pemahaman tata cara beribadah dan mengesampingkan pemahaman aqidah. Sehingga tidak terjadi pergolakan atau kegaduhan dengan tradisi masyarakat setempat. Hal ini mungkin menurut pertimbangan tokoh-tokoh Islam yang arif pada jamannya itu sebagai metode dakwah yang tepat dengan berpegang teguh kepada "bil hikmah wal mau'izhah hasanah."Dan pada masanya nanti diharapkan akan datang para pendakwah dan mubaligh yang gigih mengajarkan pemahaman aqidah yang murni.
Keadaan perkembangan agama Islam dengan wawasan aqidah yang kurang tersebut pada umumnya di kalangan masyarakat, terus berjalan sampai kemudian muncul tokoh-tokoh muda reformis dengan menekankan kepada pemahaman aqidah yang murni bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dari sinilah kemudian perkembangan pemikiran Islam mulai tumbuh dan tidak dipungkiri merupakan hal yang mesti terjadi adalah perang urat saraf, pergolakan pemikiran antara pro pembaharu dengan pemikiran moderat gaya Wali Sembilan. Kelompok tersebut bermuara sampai sekarang pada kelompok-kelompok terbesar di Indonesia, yaitu dari kalangan NU (Nahdlatul 'Ulama) yang moderat dan kelompok elitis kalangan cendekiawan yaitu Muhammadiyah Al-Irsyad dan Persis (Persatuan Islam) yang pro pembaharu yang merupakan tiga serangkai yang tidak terpisahakan hingga saat ini. Walaupun sekarang terlihat pola-pola pemikiran NU cenderung terjadi perubahan dimana yang dahulunya hanya menganut satu mazhab yaitu Imam Syafii dengan ciri khas tradisi ke-Nu-annya, sekarang sudah banyak pemikirannya yang lintas mazhab tetapi dikalangan bawah perbedaan di dua kelompok besar itu sangat kental. Sehingga kita dapat melihat warga NU jum'atan di masjid NU, warga Muhammadiyah Jum'atan di masjid Muhammadiyah hanya karena persoalan masalah adzan dalam shalat Jum'at dimana untuk warga Nahdliyin dengan menggunakan dua adzan sementara kalangan Muhamadiyah hanya satu adzan. Ini adalah salah satu perbedaan furu'iyah yang memang mesti terjadi dan tidak mungkin menyatukan fisi hal-hal semacam ini. Sehingga mujtahid terkenal di abad ini, Syaikh Yusuf Qardawi menyatakan bahwa merupakan hal yang bodoh dan mustahil menyatukan semua pendapat di dalam Islam dalam masalah furu' (cabang) karena tabiat agama Islam memang menghendaki adanya bergamai macam penafsiran atau perbedaan selain berbagai macam factor lainnya.
SEJARAH BERDIRI DAN TOKOH-TOKOHNYA
Al-Irsyad berdiri setelah berdirinya Jamiat Khair yaitu organisasi yang didirikan warga keturunan Arab di Jakarta yang hanya khusus bergerak dalam bidang pendidikan. Salah satu tokoh penting dan sangat berpengaruh adalah Ahmad Soorkatty (Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Assorkatty) dari keturunan Sudan, waktu itu termasuk wilayah Mesir.
Ahmad Surkati dilahirkan di pulau Arqu daerah Dunggulah, Sudan. Ia sudah menghafal Al-Qur'an di usia mudanya berkat ketekunan dan kasih sayang ayahnya menggembleng anaknya yang juga merupakan ulama besar yang terkenal. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia melanjutkan belajarnya ke Al-Azhar, Mesir. Sampai kemudian melanjutkan belajar di Makkah dan dengan thesisnya tentang Al-Qadha wal Qadar, ia meraih gelar Al 'Allamah (1326 H/1908 M) dengan asuhan guru besar Syaikh Muhammad bin Yusuf Alkhayaath dan Syaikh Syu'aib bin Musa Almaghribi.
Pengembaraannya ke Indonesia bermula dari permintaan Jami'at Khair di Indonesia untuk mengajar. Melalui perantaraan Syaikh Muhammad bin Yusuf Al-Khayyath dan Syaikh Husain bin Muhammad Al-habsyi sampailah maksud Surkati untuk memenuhi permintaan Jami'at Khair dengan membawa bekal keyakinan "mati di Jawa dengan berjihad lebih suci daripada mati di Makkah tanpa jihad." Akan tetapi setelah beberapa lama terjadi ketidakharmonisan hubungan antara pihak Jami'at Khair dengan Surkati, akhirnya Surkati keluar dan kemudian setelah berdiri dan berkembangnya pendidikan madrasah Al-Irsyad, ia menjadi pengajar di madrasah Al-Irsyad. Keberadaan Surkati di Al-Irsyad meroketkan organisasi tersebut jauh meninggalkan Jami'at Khair. Di samping memang Jami'at Khair terdapat banyak kelemahan di dalam sosiokulturalnya, di antaranya masih memandang tentang perbedaan status sosial.
Kedatangan Surkati di pulau Jawa bulan Maret 1911 ternyata kemudian menjadi peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, yaitu sejarah pekembangan faham pembaharuan Islam di Indonesia terutama karena kegiatannya yang suka bergelut dalam bidang pendidikan ketimbang keorganisasian Al-Irsyad itu sendiri.
Pada saat Ahmad Surkati mengujungi sahabatnya, Awad Sungkar Al-Urmei di Solo tahun 1912, dalam perjalanannnya bertemu dengan tokoh pribumi (Ahmad Dahlan) yang sedang asyik membaca majalah Almanar dan mengaguminya karena kemampuannya membaca bahasa Arab. Di samping itu memang karena jalan pikirannya yang sama tentang pemahaman pemurnian aqidah sehingga keduanya menjadi akrab. Dalam pertemuan dan perkenalannya inilah terjadi tukar pikiran antara keduanya sampai pada kesimpulan yang mengandung tekad mereka berdua untuk sama-sama mengembangkan pemikiran Muhammad Abduh di Indonesia.
Pada waktunya di kemudian berkembang pesatlah organisasi pembaharu yang menjadi terkenal dan besar di Indonesia hingga saat ini, yaitu Al-Irsyad Al-Islamiyah dan kemudian menyusul pada tahun 1912 berdiri Muhamadiyah oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Dan pada tahun 1923 berdiri pula organisasi yang sepaham yaitu Persatuan Islam di Bandung.
Di dalam akte pendirian dan Anggaran Dasar Al-Irsyad yang disahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tercatat pengurus pertamanya adalah:
- Salim bin Awad Balweel sebagai
ketua.
- Muhammad Ubaid Abud sebagai
sekretaris.
- Said bin Salim Masy'abi
sebagai bendahara.
- Saleh bin Obeid bin Abdat
sebagai penasehat.
Setelah
keluarnya beslit dari Gubernur Jenderal itu, pada hari Selasa tanggal 19
Syawwal 1333/31 Agustus 1915, telah diadakan Rapat Umum Anggota. Dalam rapat
itu diputuskan susunan pengurus untuk kepentingan intern:
- Salim bin Awad Balweel
sebagai ketua.
- Saleh bin Obeid bin Abdat
sebagai wakil ketua.
- Muhammad Ubaid Abud sebagai
sekretaris.
- Said bin Salim Masy'abi sebagai
bendahara.
Pengurus ini
dilengkapi dengan 19 orang sebagai komisaris yang berkewajiban mengawasi
jalannya perhimpunan dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya, yaitu:
- Ja'far bin Umar Balfas.
- Abdullah bin Ali Balfas.
- Abdullah bin Salmin bin
Mahri.
- Abdullah bin Abdulqadir
Harharah.
- Sulaiman bin Naji.
- Ahmad bin Thalib.
- Muhammad bin Said Aluwaini.
- Ali bin Abdullah bin 'On.
- Mubarak bin Said Balwel.
- Awad bin Said bin Eili.
- Said bin Abdullah Basalamah.
- Awad bin Ja'far bin Mar'ie.
- Salim bin Abdullah bin Musa'ad.
- Said bin Salim bin Hariz.
- Aid bin Muhammad Balweel.
- Abud bin Muhammad bin Al-Bin
Said.
- Ghalib bin Said bin Thebe'.
- 'Abid bin Awad Al-'Uwaini dan
- Mubarak Ja'far bin Said.
Sayyid Abdullah
bin Alwi Alatas merupakan tokoh pendukung utama yang pada saat kelahiran
Al-Irsyad sebagai penyumbang dana terbesar walaupun tidak aktif dalam
kepengurusan, yaitu sekitar uang sejumlah 10.000 ton beras jika dibandingkan
jumlah beras pada waktu itu.
Selain itu
terdapat tokoh-tokoh terhormat dan terpercaya lainnya yang juga tidak masuk
dalam kepengurusan seperti Sayyid Abdullah bin Abudakar Al-Habsyi, Sayyid
Abdullah bin Salim Alatas dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.
ARAH PERJUANGAN DAN SIFAT IDIOLOGINYA
Perjuangan dan cita-cita Al-Irsyad serta keyakinannya dapat
dilihat dalam apa yang disebut "Pedoman Asasi Al-Irsyad", yaitu:
- Hakekat Al-Irsyad
Organisasi ini menamakan dirinya sebagai perhimpunan yang bertujuan memurnikan pemahaman tauhid, 'ibadah dan 'amaliyah Islam dan bergerak dalam bidang pendidikan, pengajaran, kebudayaan dan dakwah Islam serta kemasyarakatan berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah guna mewujudkan pribadi Muslim dan masyarakat Islam menuju keridhoan Allah SWT.
- Mabadi' Al-Irsyad
- Memahami ajaran Islam dari
Al-Qur'an dan As-Sunnah dan bertahkim kepadanya.
- Beriman dengan aqidah
Islamiyah yang berdasarkan nash-nash Kitab Al-Qur'an dan Sunnah yang
sahih, terutama bertahud kepada Allah yang bersih dari syirik, takhayul
dan khurafat.
- Beibadah menurut tuntunan
Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, bersih dari bid'ah.
- Berakhlak dengan adab susila
yang luhur, moral dan etik Islam serta menjauhi adat istiadat, moral dan
etik yang bertentangan dengan Islam.
- Memperluas dan memperdalam
ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan duniawi dan ukhrawi yang diridhoi
Allah SWT.
- Meningkatkan kehidupan dan
penghidupan duniawi pribadi dan masyarakat selama tidak diharamkan oleh
Islam dengan nash serta mengambil faedah dari segala alat dan cara
teknis, organisasi dan administrasi modern yang bermanfaat bagi pribadi
dan ummat, materiil dan spiituil.
- Bergerak dan berjuang secara
terampil dan dinamis dengan pengorganisasian dan koordinasi yang baik
bersama-sama organisasi-organisasi lain dengan cara ukhuwah Islamiyah dan
setia kawan, serta saling Bantu dalam memperjuangkan cita-cita Islam yang
meliputi kebenaran, kemerdekaan, keadilan dan kebajikan serta keutamaan
menuju keridhoan Allah.
Perkembangan oganisasi Al-Irsyad kurang begitu pesat jika dibandingkan
dengan organisasi yang lahir jauh sesudahnya seperti Muhammadiyah dan NU. Hal
ini bisa dilihat karena kebanyakan para pengurus dan pendukung organisasi ini
adalah dari kalangan keturunan Timur Tengah (Arab). Adanya jarak antara
masyarakat keturunan Arab dengan pribumi menyebabkan sosialisasi organisasi ini
kurang menyentuh atau melebar ke masyarakat pribumi.
Dilihat dari
pergerakan keorganisasiannya, Al-Irsyad lebih cenderung penekanannya dalam
bidang sosial pendidikan. Mengenai masalah perpolitikan, organisasi ini
cenderung bersifat netral atau kurang menyentuhnya sehingga pada hal-hal yang
justru mengandung nilai perjuangan yang tinggi yaitu perjuangan untuk ummat
Islam dapat menjalankan syari'atnya dengan kafah di negara RI, kurang mendapat
respon. Hal ini tidak jauh berbeda dengan organisasi-organisasi keagamaan Islam
besar lainnya sepeti NU dan Muhamadiyah yang cenderung menerima Pancasila
sebagai satu-satunya dasar/azas negara RI dan UUD 1945 sebagai sumber dari
segala sumber hukum dengan alasan tidak ada larangan menjalankan kebebasan
agama di dalamnya. Sementara perjuangan penegakkan syari'at Islam di Indonesia
sebagian besar hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh dan kaum militan Islam dan
sayangnya kelompok ini adalah kelompok minoritas.
Memang jika
dalam pemahaman yang netral universal Pancasila itu sendiri diLihat dari
redaksionalnya telah mewadahi berbagai umat beragama dan kepercayaan untuk
melaksanakan sesuai keyakinannya, tetapi sesungguhnya yang terjadi selama ini
adalah pemahaman yang secara sepihak dibiaskan oleh pemerintah menurut
pemahamannya sehingga pelaksanaan "Kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya" sebagai nilai yang terkandung di dalam
sila pertama Pancasila tidak pernah terwujud dengan menyeluruh. Yang terwujud
hanyalah masalah hukum-hukum seperti pernikahan, waris, dan sejenisnya yang
belum menyentuh kepada hukum-hukum yang lebih jauh yang telah sedemikian detail
ada dalam hukum syara'.
Belum lama
terdapat suatu kejadian yang mungkin menjadi sejarah yang penting bagi
pelaksanaan hukum-hukum syari'at Islam di Indonesia tatkala kelompok Laskar
Jihad pinpinan Ja'far Umar Thalib, di Maluku terjadi pelaksanaan hukum rajam
bagi pelaku zina sesuai syarat-syarat yang telah ditentukan menurut syara'. Di
sini seharusnya peran pemerintah sebagai fasilitator. Dimana ada rakyatnya yang
dengan suka rela mau menggunakan hukum syari'at Islam sebagai keyakinannya dan
pemerintah tidak perlu menghalanginya karena itu adalah keyakinan agamanya yang
telah dijamin kebebasannya dalam Pancasila. Tetapi malah justru pimpinan Laskar
Jihad itu ditankap dan dipojokkan. Kecuali jika si pelaku kejahatan itu tidak
mau dan berlindung kepada hukum negara, barulah negara turut campur didalamnya.
Maka dalam hal ini para ulama telah lepas dan bebas dari kewajibannya
menjalankan hukum fardu kifayah kepada sipelaku zina tersebut dengan beralihnya
permasalahan hukum ke tangan pemerintah atas dasar "tidak ada paksaan di
dalam agama Islam." Jikalau pemerintah memiliki alasan kuat karena belum
adanya undang-undang yang secara khusus mengatur hal itu, disitulah kesalahan
yang fundamental. Hal ini karena mengesamingkan pemasalahan dasar kehidupan
beragama dan bernegara tidak tuntas dan lebih mementingkan ekonomi dan duit
yang terbukti di jaman reformasi sekarang ini duit dan kekayaan hanya lari pada
segolongan atau segelintir orang sementara kebanyakan rakyat menderita
kemiskinan, pengangguran dan krisis sosial yang berat. Kesenjangan sosial yang
dahsyat ini sesungguhnya mengandung ancaman yang sangat besar terhadap potensi
perpecahan.
Akibat dari
dasar pengaturan kehidupan sosial ekonomi, keagamaan, kenegaraan dan tata
kehidupan internasional yang tidak jelas inilah sumber dari segala sumber mala
petaka. Hukum fardu kifayah ummat untuk ummat Islam di Indonesia dapat
menjalankan syariat secara kaffah masih mengena kepada setiap yang mengaku
bersungguh-sungguh memeluk agama Islam selama perjuangan itu belum terwujud.
PENDIDIKAN SEKOLAH DI AL-IRSYAD
Al-Irsyad
membagi jenjang pendidikannya sebagai berikut:
- Awwaliyyah untuk 3 tahun
pelajaran
- Ibtidaiyyah untuk 4 tahun
pelajaran, dimana kedua jenjang pendidikan ini erupakan pendidikan tingkat
pemula atau dasar.
- Tajhiiziyyah untuk 2 tahun
pelajaran, yang merupakan jenjang lanjutan atau menengah.
- Mu'allimin untuk 4 tahun
pelajaran yang mengarahkan murid-murid untuk langsung mengajar sebaai asisten.
- Terakhir adalah Takhassus
untuk masa 2 tahun pelajaran, yaitu spesialisasi yang dipilih siswa.
Penjenjangan
itu pada mulanya dilaksanakan pada kelas-kelas, belum pada sekolah, artinya
seluruhnya dalam satu sekolah dan satu bangunan. Ini disebabkan karena
beragamnya siswa dilihat dari segi usia masing-masing. Siswa yang tingkat
kecerdasannya tinggi, bisa saja dalam waktu singkat dipindahkan ke kelas yang
jenjangnya lebih tinggi. Dengan demikian seluruh jenjang itu tidak harus
ditempuh siswa selama 13 tahun.
Pada dasarnya
di sekolah Al-Irsyad itu diajarkan pelajaran bahasa Arab sebagai mata pelajaran
terpenting, sebagai alat utama untuk memahami Islam dari sumber-sumber
pokoknya. Selain itu tekanan pendidikan juga diarahkan kepada pelajaran Tauhid,
fiqh dan sejarah. Secara umum dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Al-Irsyad
merupakan sarana pembentuk watak, cita-cita dan kemauan serta mengarahkannya
kepada ajaran yang benar dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pembaharuan yang
memiliki pengaruh jangka panjang sesuai dengan konsepsi Muhammad Abduh.
Tercatat
sebagai tokoh-tokoh pendidikan yang terkenal yang menjadi pengajar pada
Madrasah Al-Irsyad adalah:
- Syaikh Ahmad Surkati, lulusan
darul Ulum Makkah.
- Syaikh Ahmad Al-Aqib
Al-Anshari, lulusan Al-Azhar Cairo (1909).
- Abul Fadhel Sati Al-Anshary,
lulusan College Gordon Sudan (1911).
- Muhammad Al-Hasyimi, lulusan
AZ-Zaitun Tunisia (1907).
- Syaikh Hasan Hamid
Al-Anshary, lulusan Syari'ah Wad-diin Sudan (1908).
- Syaikh Muhammad Nur
Al-Anshary, lulusan Syari'ah Wad-diin Sudan (1912).
- Sayyid Muhammad Alattas,
lulusan Cairo.
- Syaikh Muhammad Al-Madani,
lulusan Al-Azhar Cairo.
- Syaikh Abu Zayd Al-misri,
lulusan Al-Azhar Cairo (1912).
- Syaikh Hasan Abu Ali Ats
Tsiqah, lulusan Darul 'Ulum Makkah.
- Sutan Abdul Hamid, guru bahasa
Arab dan sederetan nama-nama besar lainnya.
DAERAH PENYEBARANNYA
Pada tanggal 29
Agustus 1917 Al-Irsyad membuka cabangnya yang pertama di Tegal dengan diketuai
oleh Ahmad Ali Baisa.
20 Nopember
1917 disahkan keputusan pembukaan cabang Al-Irsyad yang kedua yaitu di
Pekalongan dengan ketua pertama kalinya Said bin Salim Sahaq.
Cabang
Al-Irsyad yang ketiga dibuka di Bumiayu pada tangal 14 Oktober 1918 dengan
ketuannya yang pertama Husein bin Muhammad Alyazidi.
Pada tanggal 31
Oktober 1918 Al-Irsyad membuka cabangnya yang ke empat di Cirebon dengan ketua
petamanya Ali Awad Baharmuz.
21 Januari 1919
dibuka cabang ke lima di Surabaya. Pembukaan cabang di Surabaya ini dinilai
sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al-Irsyad, karena kedudukan
Surabaya waktu itu sebagai pusat kegiatan pergerakan Islam dan tempat
berdomisilinya para pemuka masyarakat Muslimin pada waktu itu. Cabang ini
pertama kalinya diketuai oleh Muhammad bin Rayis bin Thaib.
Dari tahun 1927
sampai dengan tahun 1931 telah tercatat bedirinya cabang-cabang Al-Irsyad di
Lhoseumawhe (Aceh), Menggala (Lampung), Sungeiliat (Bangka), Labuan Haji dan
Talewang (Nusa Tenggara Barat), Pamekasan, Probolinggo, Krian, Jombang, Bangil,
Sepanjang, Semarang, Comal, Pemalang, Purwoketo, Gebang Indramayu, Cibadak,
Sindanglaya dan Solo.
Sampai tahun
1970-an, Al-Irsyad telah tersebar cabangnya sampai ke seluruh propinsi Sulawesi
Utara. Dan hingga sekarang pada umumnya tiap propinsi telah berdiri cabang
Al-Irsyad. (Ahmad Diar)
Sumber: Rujukan utama AL-IRSYAD
MENGISI SEJARAH BANGSA, H. Hussein Badjerei
|
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Copyright © Al-Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430 Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712 E-Mail: info@alislam.or.id |
Diposting oleh
Mahe
di
08.23
0
komentar
Langganan:
Komentar (Atom)